Sang nona kesepian,
tampaknya sibuk dengan dunianya sendiri. Membolak-balik buku sekenanya, mengetik
di laptopnya entah apa, dan menerawang jauh entah ke mana. Ekspresi nya apa
lagi, mati rasa. Tak ada sedih, apalagi bahagia. Mungkin sudah terlalu sering merana.
Tadi pagi benar dia sudah bergeming di situ. Matanya tidak ada ekspresi yang
bisa ditebak, putus asa. Apalagi wajahnya, tak sedikitpun rona yang nampak,
wajahnya pucat layaknya orang mati. Heran saja, bagaimana bisa ada gadis
seperti ia di sini, di tempat yang ramai dan awam.
Pandanganku terhenti
padanya, selagi mengawasi orang-orang yang berlalu lalang. Menonton kesibukan
mereka dan menerka-nerka riwayat hidup orang asing jadi kenikmatan sendiri
bagiku, kala sore yang letih tapi bersahabat. Taman kota selalu jadi tempat
pilihanku, sekedar tuk mengembalikan kenormalan hidup. Melihat anak-anak kecil
lucu menggandeng orang tuanya. Nikmat, membayangkan tak perlu tau apa-apa
masalah bejatnya dunia. Memandang sang bapak penjual balon di pinggir taman. Wajah
riangnya sembunyikan lara. Bukan hobiku melihat orang penuh masalah, serasa
batinku mengikut saja. Lalu, berakhir di gadis muda ini. Timbul aura tersendiri,
yang menarik tatapku padanya. Bukan, bukan pesona. Bukan seperti melihat orang
asing sekenanya, rasanya aku kenal benar gadis ini.
Ah sudahlah, bukan
kepentinganku juga. Ku pun berdiri dan mulai melangkah pulang ke rumah. Menyusuri
jalan pinggir taman yang biasa ku lewati. Lhoh, kenapa ada gadis itu lagi
muncul di depanku. Ia sepertinya terduduk lemas di trotoar, layaknya orang
dikejar-kejar. Nafasnya terburu, matanya memandang jauh ke depan. Menerawang.
Rasa penasaranku tak bisa terbendung lagi.
“Permisi. Ada yang bisa
saya bantu?”
Kepalanya mendongak pelan. Matanya menatapku. Mati.
Tunggu, ada sesuatu di sana. Entah apa. Dia diam saja. Wajahnya juga tak
berubah. Tiba-tiba dia berdiri, melangkah hingga begitu dekat denganku. Matanya
tak berhenti menatap, mengedip pelan sekali-kali. Ia terus begitu hingga ku
jadi salah tingkah. Tangannya di letakkan di dadaku, tepat di bagian jantung
berada. Jari-jarinya menelusup halus di kemejaku.
“Nona,
ada yang bisa saya bantu? Apa yang terjadi denganmu?” Ku mengulang lagi
pertanyaanku sembari tertawa geli.
Tangannya
tadi menelusup naik melewati leherku, hingga pipiku. Jalanan di sini memang
sepi, tapi siapa tahu akan ada yang berlalu-lalang di sekitar sini. Bisa-bisa
kami di anggap pasangan tidak tahu malu, bermesraan di depan umum.
“Nona,
apa ada yang salah? Bisakah kau bersikap biasa. Maksudku, tentu tidak etis
apabila ada orang lain yang melihat kita dalam kondisi seperti ini.”
Tangannya
menegang. Dingin dari kulitnya menjalar ke tubuhku. Sempat terlihat air mata di
pelupuk matanya. Hampir tak terlihat. Plaakk! Tangannya menampar pipiku. Keras.
Dia langsung berlari kembali ke taman hingga tak terlihat tanpa sempat ku
cegah. Mungkin dia hanya gadis gila. Ku lanjutkan perjalanan pulang sambil
mencemooh diriku sendiri, bagaimana aku harus peduli dan bertanya-tanya tentang
gadis gila tadi.
Sampai
di depan apartemenku, langkahku terhenti. Kenapa gadis itu muncul lagi di depan
apartemenku? Tahu darimana dia aku tinggal di situ? Ah, mungkin hanya
kebetulan. Tunggu, tadi dia lari jauh di belakangku, bagaimana bisa dia lebih
dulu tiba di sini?
“Mengapa
kamu bisa disini? Kau mengikutiku ya?” selidikku tanpa basa-basi.
Dia diam saja. Mungkin dia gadis bisu tuna wisma.
Tangannya di letakkan lagi di pipi kiriku.
“Jangan,
jangan. Nanti malah kau tampar lagi.
Siapa namamu?” sambil melepaskan taangannya. Dia tak menjawab. Ku ulangi lagi
bertanya, “Si-a-pa na-ma-mu?” Sengaja kubuat pelan-pelan agar dia mengerti
maksudku.
“Na....na..ma?
Nama..Na..” sambil menunjuk dirinya sendiri.
“hah?
Na? Namamu Na? Okelah kalau begitu. Berminat mampir ke dalam?”
“Emm....”
Dia hanya mengangguk-angguk agak ragu. Tapi dalam hitungan detik dia langsung
berjalan mendahuluiku memasuki apartemenku. Tiba di depan kamarku, dia langsung
membuka pintu. Seingatku aku sudah menguncinya, bagaimana bisa dia membukanya.
Kelihatannya hari ini aku benar-benar teledor, untung saja kawasan sekitar sini
biasanya aman dari maling. Begitu kami masuk, suasana kamarku terasa kisruh.
Suara dari televisi dan radio nyala bersahut-sahutan tak mau kalah. Aku jadi
merasa ada yang memasuki tempat ini secara paksa selama aku bekerja.
Na
berkeliling melihat-lihat apartemenku dengan tenang. Dia langsung menuju ke
dapur. Ku tunggu di ruang tamu, dia juga tak kunjung kembali. “Na, apa yang
kamu lakukan?” sengaja aku agak berteriak. “Na? Di sini saja. Apa yang kamu lakukan
di sana?”
“Na
suka ini. Na ingin punya. Na mau...” Badannya tersembul sebagian dari pintu
dapur. Tangannya di belakang tubuhnya. “Na mau apa?” tanyaku pasrah. “Na mau
ini..Boleh ya?” tangannya diarahkan ke depan mukaku, sambil menggenggam pisau.
“Na, lebih baik pisau itu kau jauhkan dari wajahku dulu. Itu berbahaya, simpan
baik-baik saja tak apa,” jawabku sambil tersenyum lirih.
“Dulu
ibu Na suka membawa yang seperti ini. Setiap hari ditunjukkan ke Na. Na ingin
menyentuhnya saja tak boleh. Akhirnya Na bisa punya yang seperti milik ibu
juga. Apalagi punya kakak bagus juga. Sayangnya tak ada bekas-bekas memasak
tomat atau kecapnya seperti punya ibu,” tiba-tiba dia jadi bisa berbicara
panjang lebar. Telunjuknya dan matanya menelusuri pisauku penuh hasrat,
genggamannya erat layak itu harta terpentingnya.
“Haha
kalau Na ingin ada bekas tomat atau bumbu-bumbu lainnya, Na harus belajar
memasak,” saranku sekenanya sambil meraih cermin. “Coba lihat dirimu, Na. Kau
ini gadis cantik, setidaknya belajarlah tersenyum.” Praangggg! Tiba-tiba cermin
tadi sudah pecah berserakan di lantai, tangan Na tadi menyambar cermin tadi
dari tanganku. Wajahnya pucat pasi. “Na tidak suka cermin! Na tidak mau! Na
benci kakak!” dia berteriak keras sekali, wajahnya jauh lebih pucat dari
sebelum-sebelumnya. “Hei maaf. Aku tidak tahu sama sekali kalau kau benci
cermin,” kataku dengan agak bingung. Baru saja tanganku akan mengelus
rambutnya, dia sudah berontak lagi. Tangannya menjambak-jambak rambutku, lalu
menggigit kepalaku. Darah pun mengalir dari kepalaku. Pandanganku sudah buram.
Terakhir ku lihat, kedua tangannya di angkat tinggi-tinggi di atas kepalanya
sambil menggenggam pisau pemberianku tadi. Wajahnya tersenyum, tertawa puas
layak seorang anak mendapat hadiah keinginannya. “Ibu tak perlu menyesal lagi.
Dendam ibu akan terbalas. Jangan benci aku lagi bu. Anak pria brengsek itu ada
disini,” ungkapnya pelan tapi pasti.
Kringgg
Kringg... Alarm yang biasa membangunkanku berbunyi. Tampaknya hari ini membawa
berkah tersendiri. Udara yang ku hirup dalam-dalam begitu segar tak seperti
biasanya. Badanku rasanya ringan dan bugar begitu aku bangkit dari tempat
tidurku. Ku singkap tirai yang menutupi jendela di ujung kamarku. Hari tlah
begitu cerah walau jam masih menunjukkan pagi. Sudah lama aku tak merasa
sebahagia dan setenang ini. Rasanya tak ada masalah yang membebani. Ku pun
mulai bersiap, berangkat lebih awal tuk jalani lagi keseharianku. Batinku jadi
rindukan pekerjaanku yang menunggu.
Baru saja ku langkahkan
kakiku keluar dari apartemen, sudah ada seorang bapak berbadan tegap menyapaku.
Beliau memberikan koran hari ini dengan senyum lebarnya. Mengucapkan selamat
pagi dan berjalan sampai ke ujung gang. Pandanganku berhenti sampai di situ. Ku
alihkan ke koran yang sedang ku bentangkan. Wah..banyak berita yang luput dari
kupingku kemarin. Kebakaran hotel,
perampokan di toko perhiasan depan kantorku, penerbitan buku yang
kutunggu-tunggu sejak kemarin. Ah, akhirnya aku bisa membacanya. Di pojok kiri
bawah, ada foto gadis terpampang di situ. Raut wajahnya tampilkan keceriaan,
matanya indah, apalagi senyumnya. Sayang sekali menemukan fotonya di bagian
berita kematian. Ternyata anak ini di bunuh secara keji oleh ibu kandungnya
sendiri. Sungguh ironis.
Tes. Ada tetetasan
darah dari kepalaku di foto wajah gadis itu. Jantungku tiba-tiba berdegup
kencang. Ku buang koran tadi, sambil melangkah cepat-cepat ke tujuan awalku.
Karya:
Natania.W.T
Tidak ada komentar:
Posting Komentar