Selasa, 08 Desember 2015

Hukum Gaulnya

Kamu harus jadi salah satu dari mereka
Bukan dirimu yang sekarang,
Wajah  asli tanpa dibalut apa yang mereka pakai
Otakmu sendiri bukan yang tlah diguyur ilmu bejat mereka
Bukankah itu hukumnya?
Agar paling tidak kamu di terima dan tak terbilang "aneh"

Pulanglah Saja

Dengarkah kamu ada yang meraung-raung, menangis meneriakkan namamu?
Tak sadarkah kamu ada yang menghabiskan jatah besar hidupnya menunggumu?
Aku mungkin hanya hiburanmu sementara,
sosok yang "sama" padamu, namun tak ditakdirkan bersama
Cinta kita percuma,
Sepenuh apapun kau mengisinya, akan tumpah dan kosong pula
Cinta kita di larang,
Di gertak surga dan darah asalmu

Pulanglah karena kau harus pulang,
Kita tak bisa terus lari dari rumah dan perkara
Tinggalkan aku dulu di sini,
Aku tak apa
Seperti dahulu kala
Dan yang terlega?
Akhirnya aku tak perlu menggenggam apa yang bukan milikku

(Nataniawt)

Apalagi yang Kau Minta?

Apalagi yan kau minta?
Bukan kelak lagi namanya
12 rembulan aku lalui sudah, tuk tunjukkan setia berbahwarasa
Hanya tuk menunggu sanjungan bejat tak berlagak
Yang beranjak sambil menenteng,
nafsu semu tanpa renjana

Apalagi yang kau minta?
Tangisanku tak penting sudah
Ditimang malam di tonton sang candra
Hanya tuk mengharap palsunya maafmu
Rindu bercumbu canda denganmu jadi sebab,
meski maki mu masih tak kenal tikungan

Apalagi yang kau minta?
Hamba sudah lelah
Budakmu terpuruk dan merangkak sesekali ditiup sang bayu
Terlalu rapuh tuk awali yang baru,
Meski terlalu hina tuk bersujud di kakimu, tuan

Apalagi yang kau minta?
Aku sudah dengar sahayamu yang melagu biru
Di penuhin bejibun cinta-cintamu yang ternoda
Bisa pula rasa kasihan menerjangmu
Sekarang kau balik bertanya,

Apalagi yang kau minta?
Aku hanya minta satu,
Mohon diri bersanding bersamamu,
Sambil mengisi lagi kisah cinta 2 anak manusia tanpa nafsu (Nataniawt)

Tuk yang Menahan Rasa

Awan masih menunggu waktu
Tuk curahkan kisahnya
Hingga ia tak kuat lagu, dibebani wajah masa lalu
Dan membuang air mata sisa keberaniannya

Atau, awan masih bersabar
Sambil dirajuk manis penari-penari udara,
yang molek berhiaskan guguran daun terbang
Ia malu tuk sekadar mendongak,
Ia hanya mampu bergeming memendarkan bayangan
Entah juga, siapa tahu? Kalau jiwanya mengumpat berpasang topeng pasrah

Mungkin juga sang awan masih  takut, 
Keluarkan penat yang tak kunjung berhenti mengetuk hatinya
Tapi ia tak berteriak
Apa rentetan protes acuh menggantikan nasibnya?
Dicampakkan ke daratan setelah disanjung,
Diseret-seret sungai hingga di sembur lagi bersama sinar surya

Buktinya awan masih di atas,
Menahan diri meski sudah berat beban,
meski lelah tingkah di ciumi bidadari dirgantara
meski risih pula di gandrungi bianglala tetangga
Ia akhirnya patuh saja, ikuti takdir mengatur kisah
Dan berpangku menunggu waktu yang tepat mengantarnya tiba (Nataniawt)