Selasa, 08 Desember 2015

Tuk yang Menahan Rasa

Awan masih menunggu waktu
Tuk curahkan kisahnya
Hingga ia tak kuat lagu, dibebani wajah masa lalu
Dan membuang air mata sisa keberaniannya

Atau, awan masih bersabar
Sambil dirajuk manis penari-penari udara,
yang molek berhiaskan guguran daun terbang
Ia malu tuk sekadar mendongak,
Ia hanya mampu bergeming memendarkan bayangan
Entah juga, siapa tahu? Kalau jiwanya mengumpat berpasang topeng pasrah

Mungkin juga sang awan masih  takut, 
Keluarkan penat yang tak kunjung berhenti mengetuk hatinya
Tapi ia tak berteriak
Apa rentetan protes acuh menggantikan nasibnya?
Dicampakkan ke daratan setelah disanjung,
Diseret-seret sungai hingga di sembur lagi bersama sinar surya

Buktinya awan masih di atas,
Menahan diri meski sudah berat beban,
meski lelah tingkah di ciumi bidadari dirgantara
meski risih pula di gandrungi bianglala tetangga
Ia akhirnya patuh saja, ikuti takdir mengatur kisah
Dan berpangku menunggu waktu yang tepat mengantarnya tiba (Nataniawt)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar